Kamis, 06 November 2025

Antara Langit Jakarta dan Daratan Jeddah ke Madinah

Diberangkatkan oleh
PT. Mabrur Tour & Travel, rombongan umroh berisi 69 jamaah Masjid Al-Amin, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, ditambah 5 jamaah dari Pemalang, menjadi barisan besar yang sejak awal memancarkan semangat perjalanan. 

Kami, rombongan kecil dari Kota Serang, yang datang belakangan berempat —saya dan istri, Ratu Sika Dini Rahyu, serta rekan kerja saya, Pak Komaruzzaman dan istrinya—langsung larut dalam suasana. Rasanya energi perjalanan ini sudah lebih dulu bergerak, merambat dari rumah, merayap masuk ke koper, lalu menggumpal penuh di dada ketika kaki menjejak lantai Bandara Soekarno–Hatta, Cengkareng.

Dari arah yang berbeda kami datang, namun justru itulah yang memperkaya warna barisan ini—seperti empat nada baru yang menyempurnakan harmoni. Sejak detik itu, perjalanan panjang menuju Tanah Suci bukan lagi sekadar perpindahan tempat. Ia berubah menjadi pertemuan energi, niat, dan harapan yang menyatu, bergerak bersama dari berbagai penjuru, menuju satu tujuan yang sama.

Tepat pukul 10.00 WIB, pesawat Saudi Airlines lepas landas meninggalkan Jakarta. Di layar kecil di depan kursi, angka-angka jarak dan waktu menegaskan betapa panjangnya penantian ini: sepuluh jam penerbangan, menempuh 7.992 kilometer menuju Jeddah. Langit di luar jendela pun ikut berubah, dari biru cerah Jakarta menuju biru pucat di atas Laut Arab. Di dalam dada, rasa haru dan penasaran tumbuh bersamaan. Apalagi pertama kali ke luar negeri, sensasi memasuki dunia lain itu terasa kuat — seperti membuka halaman baru dalam hidup.

Pesawat mendarat mulus di King Abdulaziz International Airport, Jeddah, sekitar pukul empat sore waktu setempat. Udara panas gurun menyambut kami dengan kering tetapi tidak menyesakkan. Cahaya matahari jatuh miring di antara bangunan berwarna krem pucat, sementara jauh di belakangnya, guratan pasir dan tembok tinggi menghadirkan kontras yang asing namun menawan. Mata Indonesia ini sempat kikuk melihat langit tanpa awan dan bumi tanpa pepohonan rimbun. Di sinilah kesabaran pertama diuji: menunggu bagasi sekitar satu jam. Namun dengan hati lapang, waktu berjalan seperti air.


Begitu koper terkumpul, rombongan 78 orang diarahkan menuju dua bus besar yang akan membawa kami menuju Madinah. Begitu bus meninggalkan kota, pemandangan perlahan berubah: jalanan lurus dan panjang, seperti garis yang ditarik dengan penggaris di atas tanah gurun. Bukit-bukit batu warna cokelat gelap berdiri diam, seolah sedang menjaga rahasia padang pasir. Senja gurun turun pelan, mengubah langit menjadi jingga pucat yang tidak kami temui di tanah air. Perjalanan darat sejauh 408 kilometer itu ditempuh dalam waktu lima setengah jam, termasuk satu kali berhenti di rest area.

Di beberapa titik, kerlap-kerlip lampu permukiman kecil terlihat seperti permata ditabur jauh di hamparan pasir. Angin gurun sesekali mengangkat debu halus, melintas seperti kabut rendah yang misterius. Tidak ada suara klakson, tak ada hiruk-pikuk. Hanya dentingan halus roda bus yang berkejaran dengan sepi.

Ketika malam tiba, perjalanan terasa semakin syahdu. Lampu-lampu jalan memantul lembut pada batu-batu gurun, menciptakan ritme cahaya yang menemani setiap kilometer menuju Kota Nabi. Di dalam bus, jamaah mulai tenggelam dalam doa masing-masing, seolah padang pasir yang luas memberi ruang bagi hati untuk menunduk dan merenung.

Sekitar pukul sebelas malam, bus akhirnya memasuki Madinah. Kota itu menyambut dengan ketenangan yang berbeda: rapi, bersih, teduh, dan dingin. Udara yang tadinya hangat berubah menjadi sejuk menggigit. Lampu-lampu memantulkan warna keemasan pada dinding granit bangunan, menciptakan nuansa damai yang nyaris tak dapat dijelaskan.

Setelah check-in singkat di Hotel Al Ansar Golden Tulip di Jalan Abi Ubaydah bin Al-Jarrah, tubuh rasanya ingin rebah. Namun panggilan hati jauh lebih kuat dari rasa lelah. Malam itu juga, langkah kaki mengarah ke Masjid Nabawi. Di antara lampu lembut, bayangan payung-payung raksasa yang kuncup, dan udara dingin Madinah, setiap langkah terasa ringan — seakan bumi sendiri sedang memberi salam kepada tamu yang baru tiba.

Dan tepat di pelataran masjid itu, sebelum shalat jama’ takhir Maghrib dan Isya terlaksana, sejenak hati bergetar: perjalanan panjang berjam-jam itu ternyata bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan batin. Dari rumah menuju rindu. Dari Tanah Air menuju Tanah Nabi. Dari diri yang jauh menuju diri yang lebih dekat kepada-Nya.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar