Jumat, 07 November 2025

Ngopi Pagi di Madinah

Usai Subuh pertama di Masjid Nabawi, arus jamaah mulai mengalir keluar dari pelataran masjid, bercampur antara yang kembali ke hotel, yang mencari sarapan, dan yang sekadar ingin menikmati udara pagi Madinah. Jalan menuju hotel-hotel di sekitar Nabawi terlihat rapi, tetapi bagi sebagian orang—terutama di hari pertama—semua blok bangunan tampak mirip. Lampu-lampu lobi hotel masih menyala terang, sementara kios-kios kecil di sepanjang jalur mulai membuka pintu gesernya.

Di antara rombongan jamaah yang melangkah pulang, ada satu teman yang tampak kebingungan, mencoba mencocokkan ingatan tentang hotelnya dengan deretan bangunan yang serba krem dan bernuansa Timur Tengah. Jalur yang semula dipikir sudah hafal, rupanya berkelok sedikit lebih jauh dari perkiraan. Tanda-tanda visual yang tadinya terasa jelas mulai berubah menjadi puzzle kecil: belokan ini tadi ada apoteknya atau restoran India? Pojokan itu ada toko kurmanya atau toko parfum?

Kebingungan itu berakhir di sebuah trotoar seberang hotel, ketika terlihat seorang pemuda Arab sedang duduk santai dengan segelas kopi panas di tangan. Gayanya tenang, khas penduduk lokal yang tampak menikmati pagi tanpa terburu-buru. Bahasa tubuhnya langsung memberi sinyal ramah bagi siapa pun yang butuh bertanya arah. Percakapan ringan pun mengalir—sedikit bahasa Inggris, sedikit bahasa isyarat universal orang nyasar.

Ternyata pemuda itu bekerja di sebuah coffee shop kecil tak jauh dari situ. Dengan antusias ia menawarkan untuk membuatkan kopi, dan tawaran itu sulit ditolak mengingat udara Madinah yang masih dingin menusuk. Tak lama kemudian, dua cup medium berpindah tangan, lengkap dengan aroma kopi Arab yang menggugah.

Harga total dua cup itu: 30 SAR (setara Rp135 ribuan). Untuk banyak jamaah, ini biasanya menjadi momen “selamat datang di Madinah”—ketika kopi pertama bukan sekadar minuman, tapi juga upacara kecil yang menandai adaptasi awal. Antara harga yang terasa membuat kaget dan pengalaman bertemu anak muda lokal yang ramah, pagi itu berubah menjadi cerita kecil yang menyenangkan: sebuah pengingat bahwa perjalanan selalu dimulai dari langkah sederhana—dan secangkir kopi bisa menjadi petunjuk arah yang paling memanusiakan.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar