Di antara rombongan jamaah yang melangkah pulang, ada satu teman yang tampak kebingungan, mencoba mencocokkan ingatan tentang hotelnya dengan deretan bangunan yang serba krem dan bernuansa Timur Tengah. Jalur yang semula dipikir sudah hafal, rupanya berkelok sedikit lebih jauh dari perkiraan. Tanda-tanda visual yang tadinya terasa jelas mulai berubah menjadi puzzle kecil: belokan ini tadi ada apoteknya atau restoran India? Pojokan itu ada toko kurmanya atau toko parfum?
Ternyata pemuda itu bekerja di sebuah coffee shop kecil tak jauh dari situ. Dengan antusias ia menawarkan untuk membuatkan kopi, dan tawaran itu sulit ditolak mengingat udara Madinah yang masih dingin menusuk. Tak lama kemudian, dua cup medium berpindah tangan, lengkap dengan aroma kopi Arab yang menggugah.
Harga total dua cup itu: 30 SAR (setara Rp135 ribuan). Untuk banyak jamaah, ini biasanya menjadi momen “selamat datang di Madinah”—ketika kopi pertama bukan sekadar minuman, tapi juga upacara kecil yang menandai adaptasi awal. Antara harga yang terasa membuat kaget dan pengalaman bertemu anak muda lokal yang ramah, pagi itu berubah menjadi cerita kecil yang menyenangkan: sebuah pengingat bahwa perjalanan selalu dimulai dari langkah sederhana—dan secangkir kopi bisa menjadi petunjuk arah yang paling memanusiakan.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar