Sabtu, 08 November 2025

Ada Keajaiban di Tengah Desakan Ziarah Makam Nabi Muhammad ﷺ

Udara sore di pelataran Masjid Nabawi terasa hangat, tapi bukan karena matahari semata. Dari setiap napas yang tersengal, setiap doa yang terucap, ada gelombang semangat yang sulit dijelaskan. Ratusan jamaah dari berbagai negara, bersarung, berkain gamis, bersyal hijau-putih tanda rombongan, merayap pelan menuju satu tujuan: makam Rasulullah Muhammad SAW.

Langkah terasa ringan, tapi tubuh justru terombang-ambing—ke kanan, ke tengah, lalu ke kanan lagi—seolah kehilangan kendali atas arah sendiri. Tubuh-tubuh yang saling menempel menjelma arus besar yang tak mungkin dilawan. Di tengah kepadatan itu, aroma parfum Arab bercampur dengan keringat jamaah, menciptakan wangi yang anehnya tak menyesakkan, malah membuat hati lembut dan pasrah.

Posisi makam Rasulullah SAW berada di sisi kiri iringan jamaah. Namun, untuk bisa ke sana, butuh lebih dari sekadar niat: butuh kesabaran, kekuatan, dan sedikit keberuntungan. Berkali-kali langkah mencoba bergeser ke kiri, tapi selalu terhempas ke tengah—kadang bahkan terdorong ke arah kanan. Seolah tangan takdir masih menahan jarak itu.

Hingga akhirnya, tanpa tahu bagaimana, tubuh ini sudah berada di barisan paling kiri. Tepat di depan pintu makam Rasulullah SAW. dan kedua sahabatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Hanya beberapa langkah lagi dari tempat di mana doa-doa seolah langsung bersentuhan dengan sejarah. Tak ada dorongan lagi. Waktu terasa berhenti. Di hadapan dinding hijau dengan pintu berhiaskan kaligrafi emas, yang selama ini hanya kulihat lewat foto dan video, dada tiba-tiba bergetar. Mata berbinar. Bibir gemetar menahan syukur.

Sungguh, di tengah himpitan ribuan tubuh, ada ruang lapang yang tiba-tiba terbuka di dada—ruang yang hanya bisa disebut satu kata: keajaiban.

Dan ketika langkah akhirnya berhenti di hadapan makam Nabi, barulah tersadar: sejauh apa pun tubuh ini terombang-ambing di tengah lautan manusia, sejatinya tidak pernah tersesat. Sejak awal, arah itu sudah dituntun—bukan oleh arus jamaah, tapi oleh cinta yang menuntun setiap langkah menuju beliau.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar