Sabtu, 08 November 2025

Andai Jalanan Kota Serang Sehening Madinah

Membayangkan seandainya jalanan di Kota Serang sebagus — namun sesepi — jalan di depan Hotel Al Ansar Golden Tulip, Madinah, rasanya para pemotor pasti sudah gatel buat ngabret alias gaspol. Tapi di sini, pemandangan seperti itu justru tenang, nyaris tanpa suara mesin dua atau empat tak, ataupun klakson yang memekakkan telinga.

Di Madinah, tak ada sepeda motor pribadi. Hanya motor polisi dan kurir pengantar makanan yang sesekali lewat, itu pun tanpa kebisingan. Selebihnya mobil-mobil meluncur pelan, rapi, dan jarang sekali terdengar suara klakson. Jalanan bersih, udara tenang, dan seakan semua orang tahu ritme masing-masing. Tidak ada yang terburu-buru, tidak ada yang saling serobot.

Ketenangan itu awalnya terasa janggal bagi yang terbiasa hidup di kota Indonesia. Tapi perlahan, tubuh ikut menyesuaikan. Langkah kaki menjadi lebih lambat, tapi hati terasa lebih lapang. Di Madinah, perjalanan tidak hanya soal berpindah tempat, tapi juga tentang menjaga suasana batin.

Saya jadi teringat Kota Serang, kota kecil di Banten yang juga dikenal sebagai kota santri. Di sana, motor bukan sekadar alat transportasi, tapi bagian dari keseharian: santri berangkat ngaji, pedagang keliling, tukang ojek pangkalan, hingga pegawai berangkat kerja — semua bergerak dengan suara khas knalpot yang beragam nadanya. Klakson dan deru mesin seolah menjadi latar suara kota.

Namun yang menarik, meski Serang dikenal sebagai kota santri, ketenangan Madinah belum sepenuhnya hadir di sana. Religiusitas yang hangat kadang kalah oleh kebiasaan tergesa. Lampu merah bisa jadi tempat ujian kesabaran, zebra cross sering diabaikan, dan klakson masih jadi alat komunikasi favorit di jalan.

Madinah mengajarkan bahwa ketertiban bukan semata hasil peraturan, tapi buah dari kesadaran. Di sana, keteraturan seolah tumbuh dari dalam diri, bukan karena takut ditilang. Dan mungkin, di situlah letak perbedaannya — antara kota yang menata diri karena iman, dengan kota yang masih belajar menata diri di tengah niat baik yang belum serempak.

Saya jadi berpikir: mungkin ketenangan bukan soal aspal yang halus, tapi tentang bagaimana orang-orang memaknai perjalanan. Di sini, perjalanan terasa pelan, tapi pasti. Di tempatku, perjalanan sering cepat — tapi entah ke mana.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar