Di Madinah, tak ada sepeda motor pribadi. Hanya motor polisi dan kurir pengantar makanan yang sesekali lewat, itu pun tanpa kebisingan. Selebihnya mobil-mobil meluncur pelan, rapi, dan jarang sekali terdengar suara klakson. Jalanan bersih, udara tenang, dan seakan semua orang tahu ritme masing-masing. Tidak ada yang terburu-buru, tidak ada yang saling serobot.
Ketenangan
itu awalnya terasa janggal bagi yang terbiasa hidup di kota Indonesia. Tapi perlahan,
tubuh ikut menyesuaikan. Langkah kaki menjadi lebih lambat, tapi hati terasa
lebih lapang. Di Madinah, perjalanan tidak hanya soal berpindah tempat, tapi
juga tentang menjaga suasana batin.
Saya
jadi teringat Kota Serang, kota kecil di Banten yang juga dikenal sebagai kota
santri. Di sana, motor bukan sekadar alat transportasi, tapi bagian dari
keseharian: santri berangkat ngaji, pedagang keliling, tukang ojek pangkalan,
hingga pegawai berangkat kerja — semua bergerak dengan suara khas knalpot yang beragam
nadanya. Klakson dan deru mesin seolah menjadi latar suara kota.
Namun
yang menarik, meski Serang dikenal sebagai kota santri, ketenangan Madinah
belum sepenuhnya hadir di sana. Religiusitas yang hangat kadang kalah oleh
kebiasaan tergesa. Lampu merah bisa jadi tempat ujian kesabaran, zebra cross
sering diabaikan, dan klakson masih jadi alat komunikasi favorit di jalan.
Madinah
mengajarkan bahwa ketertiban bukan semata hasil peraturan, tapi buah dari
kesadaran. Di sana, keteraturan seolah tumbuh dari dalam diri, bukan karena
takut ditilang. Dan mungkin, di situlah letak perbedaannya — antara kota yang
menata diri karena iman, dengan kota yang masih belajar menata diri di tengah
niat baik yang belum serempak.
Saya jadi berpikir: mungkin ketenangan bukan soal aspal yang halus, tapi tentang bagaimana orang-orang memaknai perjalanan. Di sini, perjalanan terasa pelan, tapi pasti. Di tempatku, perjalanan sering cepat — tapi entah ke mana.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar