Ada yang bilang, umrah itu shafar, dan shafar, katanya, akan memperlihatkan sifat-sifat asli seseorang. Awalnya saya pikir itu hanya kiasan; semacam nasihat tua yang diulang karena kedengarannya bijak. Tapi setelah menjalani sendiri perjalanan ini —dari antrean imigrasi yang panjang, koper yang salah tempat, hingga target wisata kota yang zonk— saya baru tahu, kalimat itu bukan sekadar pepatah. Ia pengalaman yang hidup.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Jika engkau ingin mengenal seseorang, maka bepergianlah bersamanya.” (HR. Baihaqi).
Hadis yang sederhana, tapi dalamnya bisa menembus lapisan kesabaran dan ego manusia. Sebab dalam perjalanan, semua topeng sosial perlahan jatuh: keramahan bisa berubah jadi gerutu, ketenangan bisa diuji oleh ketidakpastian, dan kesabaran yang biasanya dikutip dari ayat-ayat, kini harus dibuktikan di depan pintu lift yang rebutannya minta ampun.
Shafar memang membuka ruang kejujuran. Kita melihat siapa yang mendahulukan orang lain, siapa yang selalu ingin lebih dulu. Siapa yang diam tapi sigap, siapa yang cerewet tapi ringan tangan. Lucunya, kadang yang terbuka bukan sifat orang lain, tapi sifat kita sendiri —yang selama ini kita sembunyikan di balik rutinitas dan kenyamanan.
Selama di Madinah dan Makkah, saya menyaksikan banyak wajah: lelah tapi tulus, murung tapi sabar, cerewet tapi perhatian. Dan di sela-sela itu, saya belajar melihat cermin tanpa kaca —cermin dari reaksi, keluh, dan sikap saya sendiri. Barangkali, memang itu inti dari setiap perjalanan: bukan hanya mendekat secara geografis ke Tanah Suci, tapi juga mendekat pada kejujuran diri.
Akhirnya saya paham, mengapa umrah itu disebut shafar. Karena ia bukan sekadar perpindahan tempat, tapi perpindahan batin dari yang tampak ke yang sejati.
Perjalanan ini bukan cuma tentang paspor, visa, atau jarak ribuan kilometer, melainkan tentang seberapa jauh kita sanggup mengenal diri sendiri ketika semua kenyamanan ditanggalkan.
Dan kini, ketika pesawat bersiap membawa saya pulang, kalimat itu berputar lagi di kepala: Umrah itu shafar. Dan shafar, ternyata, bukan hanya memperlihatkan sifat orang lain —tapi mempertemukan kita dengan siapa diri kita sebenarnya.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar