Bagi sebagian orang, perubahan ini adalah keniscayaan zaman. Tapi bagi yang peka terhadap lanskap spiritual, kehilangan gunung-gunung itu seperti kehilangan cermin kerendahan hati. Gunung-gunung di Makkah bukan sekadar batu, mereka adalah simbol. Mereka mengingatkan bahwa manusia hanyalah titik kecil di antara kebesaran ciptaan. Bahwa perjalanan menuju Allah seharusnya mendaki—melelahkan, tapi memuliakan.
Kini, jalan ke Masjidil Haram sudah rata dan berpendingin udara. Tapi di mana tempat bagi kesunyian itu bernaung? Ketika panorama berubah, rasa tunduk pun ikut diuji. Kesederhanaan yang dulu terpancar dari lembah-lembah sempit kini tertutup kaca hotel lima puluh lantai. Dari puncak menara, orang bisa memandang Ka'bah dari atas, tapi apakah pandangan itu masih sama nilainya dengan menatap dari bawah—dengan kaki berdebu dan hati bergetar?
Mungkin, inilah ujian baru bagi umat: menjaga kesucian batin di tengah kemegahan buatan manusia. Menemukan kembali gunung-gunung yang hilang, bukan di batu dan pasir, melainkan di dalam diri—di tempat kerendahan hati masih bisa tumbuh, dan kesederhanaan tetap punya ruang untuk bernafas.
Karena pada akhirnya, gunung-gunung itu tak benar-benar hilang. Mereka hanya berpindah tempat—dari wajah Makkah, ke hati orang-orang yang masih percaya bahwa kemegahan sejati bukan terletak pada tinggi bangunan, melainkan pada kedalaman sujud.***
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar