Saya sering bertanya dalam hati: seandainya Nabi Muhammad SAW, Nabi Ibrahim AS, para sahabat, dan para pejuang sezamannya menyaksikan semua ini, apa yang akan mereka katakan? Mungkin mereka akan tertegun — bukan oleh kilau menara dan lampu-lampu megah, tetapi oleh ramainya umat manusia yang datang dari segala penjuru bumi, membawa harapan, kegelisahan, dan pencarian yang sama.
Mungkin Nabi akan tersenyum lembut, bukan marah. Barangkali beliau akan berbisik: “Zaman memang berubah, tapi hati manusia tetaplah tempat ujian.” Nabi Ibrahim mungkin akan menatap Ka’bah yang kini dilingkari bangunan tinggi itu dan mengangguk pelan, seolah memahami bahwa rumah yang dulu ia dirikan kini menjadi pusat putaran dunia. Para sahabat, mungkin mereka akan saling pandang — heran sekaligus haru — melihat jutaan manusia memenuhi tanah yang dulu mereka perjuangkan dengan segala keterbatasan.
Karena sebenarnya, mereka tidak berjuang untuk mempertahankan bentuk. Mereka berjuang untuk menjaga makna. Kesakralan tidak pernah bersumber dari batu dan bangunan, melainkan dari hati yang tunduk dan jiwa yang berserah. Batu hanyalah saksi; waktu hanyalah aliran. Yang abadi selalu berada di antara keduanya.
Dan pada titik itu saya menyadari: tempat suci tetap sakral bukan karena ia tak berubah, tetapi karena ia menguji siapa yang sanggup menemukan keheningan di tengah keramaian, dan keabadian di antara perubahan. Di antara batu dan waktu, jejak itu masih ada — menunggu siapa pun yang datang bukan sekadar untuk melihat, tetapi untuk merasakan.***
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar