Jumat, 14 November 2025

Tawaf Wada' dan Jum’at Terakhir di Depan Ka'bah

Berangkat dari pagi yang cerah, Jum’at, 14 November 2025, dimulai dengan ritual sakral yang tidak tercatat dalam buku manasik: packing koper, dan harus sudah siap diangkut bellboy jam 09.00. Entah kenapa, setiap menjelang pulang, koper selalu terasa lebih kecil daripada waktu datang. Kaos tak bertambah, celana tetap segitu-gitunya, oleh-oleh juga belum seberapa. Tapi kenyataannya, koper seperti punya ego: makin dekat jadwal pulang, makin sempit saja rasanya.

Di antara tumpukan barang itu, ada satu benda yang sejak awal sudah ditakdirkan untuk tidak ikut pulang: kain ihram. Kain putih yang menemani sejak miqat di Bir Ali—melewati umrah pertama, kedua, tawaf sunnah, hingga umrah ketiga—kain yang masih akan dipakai sekali lagi untuk tawaf wada’. Karena itu, ia tidak dimasukkan ke koper. Kelak akan ditinggalkan di hotel, menjadi semacam penanda kecil bahwa perjalanan ini masih menggantung: semoga suatu hari yang tidak terlalu lama dari sekarang, ada kesempatan untuk kembali “menjenguknya”.

Jam sembilan, para jamaah mulai berkumpul untuk tawaf wada’. Tidak ada yang benar-benar siap untuk momen ini. Langkah terasa pelan, pandangan ke arah Ka’bah mulai berkabut oleh haru, dan seolah ada energi yang menahan dada. Tawaf wada’ itu sederhana secara ritual, tetapi berat secara emosional. Ada rasa “tak rela pulang”, ada rasa syukur sudah sampai sejauh ini, ada pula rasa takut: kapan bisa kembali lagi?

Menjelang jam sebelas, tubuh rasanya seperti baterei tinggal 30 persen. Namun hari itu belum selesai. Tubuh memang letih, kaki berdenyut, dan napas terasa berat setelah rangkaian ibadah berlapis city tour sejak hari pertama. Setelah berganti pakaian koko, baju bebas dan batik seragam rombongan, jamaah kembali menyusuri jalan menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat Jum’at —yang kedua selama perjalanan umrah ini.

Dalam kepasrahan, harapan sederhana melintas: cukup mendapat tempat di pelataran luar, meski di bawah terik yang mulai memanas. Tetapi rupanya skenario Allah selalu punya cara tersendiri mengatur para tamunya. Gelombang manusia datang dari segala arah, deras namun tidak kasar—seolah memberi isyarat halus: ikuti saja arus ini. Dalam hitungan menit, gelombang manusia dari berbagai bangsa mendorong tubuh perlahan-lahan—tanpa bisa dilawan—dan akhirnya bersimpuh di area mataf lantai dua. Ajaib: dari target “asal dapat tempat”, justru berakhir di titik yang lebih sejajar dengan Ka’bah, lebih teduh, lebih sakral, lebih menyentuh.

Di tengah rasa lelah yang sempat membuat pasrah, justru dihadiahi tempat terbaik untuk sujud terakhir di hari itu. Sebuah pengingat halus bahwa dalam perjalanan seperti ini, manusia cuma merencanakan… tapi Allah yang mengatur peta langkahnya.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar