![]() |
| (Foto ilustrasi/Google) - |
Tadi sore, di rooftop Masjidil Haram, seorang jamaah tua yang bahkan asalnya tak sempat kutanya, mengulurkan satu biji kurma. Ya, hanya satu biji. Tidak lebih. Angin menyapu hangat dari segala arah, suara azan merayapi udara, dan ribuan orang duduk menunggu waktu maghrib dalam hening. Kurma itu kuterima sebagai pemberian yang tampak kecil tapi terasa besar.
Dan ketika kurma itu masuk ke mulut, aku langsung tahu: ternyata satu biji saja bisa mengenyangkan. Bukan karena ukurannya yang memang gemuk, melainkan karena situasi batin yang menyertainya. Ada sesuatu yang larut bersama manisnya —sebuah rasa ringan, lega, dan cukup. Dalam momen itu, aku memahami bahwa kecukupan bukan selalu tentang kuantitas. Ia sering kali lahir dari kesadaran bahwa kita sedang berada di tempat yang paling tepat untuk merasa cukup.
Kurma itu menjadi semacam pengingat bahwa hidup sering terasa kurang bukan karena yang kita punya sedikit, melainkan karena hati kita terlalu penuh dengan keinginan. Di tanah suci Makkah, sebiji kurma tiba-tiba bisa menjelma pelajaran besar bahwa yang kecil bisa menyempurnakan, yang sederhana bisa menguatkan, dan yang tampak biasa bisa menjadi sangat luar biasa —ketika diterima dengan syukur.
Dan mungkin, itulah inti dari perjalanan ini: menemukan kembali kecukupan dalam hal-hal kecil, termasuk dalam sebiji kurma yang diberikan dengan tangan renta di tengah jutaan manusia yang sama-sama belajar merendahkan diri.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar