Ada yang takut ketinggian tapi tetap nekat, ada yang penasaran tapi tidak lupa membaca doa sebelum naik. Dan mereka semua sebenarnya tengah membangun satu kalimat yang akan menjadi oleh-oleh paling laris sepulang nanti: “Aku pernah naik cable car di Ta’if.” Itu sudah cukup untuk menghidupkan suasana kumpul keluarga atau arisan RT selama lima sepuluh menit.😀
Yang menarik, sepanjang antrean berjubel yang terasa tak bergerak selama satu jam setengah lebih itu, hampir tidak terdengar keluhan. Mungkin karena mereka tahu bahwa setiap detik dalam perjalanan ini—termasuk menunggu—punya makna tersendiri. Seolah antrean itu adalah latihan kecil menapaki sabar dan syukur, dua mata uang paling mahal dalam perjalanan spiritual mana pun.
Dan akhirnya, ketika kereta gantung itu meluncur pelan, meninggalkan daratan dan menggantung di udara, wajah-wajah Indonesia tadi berubah. Tatapan mereka tertarik keluar jendela, mata berbinar seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia dari ketinggian. Seolah mereka benar-benar sedang naik sedikit lebih dekat ke langit.
Ternyata, bukan hanya karena ingin tahu. Barangkali, di dalam diri kita semua memang ada kerinduan bawaan untuk mendekat ke langit—walau hanya sebentar, walau lewat sebuah kereta gantung di Ta’if.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar