Kamis, 13 November 2025

Lidah Sunda di Tanah Suci


Sudah tiga hari di Mekah, tapi lidah Sunda saya seperti sedang puasa rasa. Bukan karena menahan lapar, melainkan karena setiap suapan terasa asing — seolah bumbu dan rempah Arab bersekongkol menantang “kesetiaan” saya pada rasa kampung halaman.

Di Madinah kemarin, masih mendingan ada pelipur lapar: nasi goreng rasa Nusantara, daging berbumbu mirip-mirip rendang, bahkan kadang ada sayur yang rasanya nyerempet ke lidah Priangan. Tapi di Mekah, semua berubah. Makanan restoran setiap waktu makan menyajikan aroma yang menusuk tapi tak akrab, rasa yang gurih tapi tak jinak di lidah. Entah kenapa, justru ketika di Tanah Suci, lidah saya merasa jauh dari rumah.

Padahal di Indonesia pun, aroma masakan Arab sudah lama dikenal. Tapi rupanya, wangi nasi kebuli atau bumbu kebab yang sering lewat di ruko Kota Serang atau Rangkas tak cukup jadi latihan bagi lidah Sunda tulen. Ia tetap menolak halus: “hatur nuhun, punten teu biasa...”

Mungkin beginilah nasib lidah kampung —terlalu setia, terlalu lokal. Tapi... bukankah di situlah keindahannya? Di antara gedung menjulang dan gemerlap Mekah modern, rasa rindu pada pecel lele Lamongan, soto tangkar Bogor, sate Madura dan kikil Padang jadi penanda betapa kuatnya akar yang menumbuhkan kita.

Dan mungkin, justru di sanalah makna ziarah rasa: menapaki tanah para nabi sambil belajar merelakan lidah, membuka diri pada rasa baru tanpa kehilangan jati diri.

Jadi, kalau nanti pulang ke tanah air, saya tahu persis apa yang akan saya cari pertama kali —bukan oleh-oleh, bukan kurma, tapi sepiring nasi hangat, sayur kacang merah dengan peté dan ikan peda. Supaya lidah Sunda ini benar-benar merasa sudah pulang.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar