Di Madinah kemarin, masih mendingan ada pelipur lapar: nasi goreng rasa Nusantara, daging berbumbu mirip-mirip rendang, bahkan kadang ada sayur yang rasanya nyerempet ke lidah Priangan. Tapi di Mekah, semua berubah. Makanan restoran setiap waktu makan menyajikan aroma yang menusuk tapi tak akrab, rasa yang gurih tapi tak jinak di lidah. Entah kenapa, justru ketika di Tanah Suci, lidah saya merasa jauh dari rumah.
Padahal di Indonesia pun, aroma masakan Arab sudah lama dikenal. Tapi rupanya, wangi nasi kebuli atau bumbu kebab yang sering lewat di ruko Kota Serang atau Rangkas tak cukup jadi latihan bagi lidah Sunda tulen. Ia tetap menolak halus: “hatur nuhun, punten teu biasa...”
Mungkin beginilah nasib lidah kampung —terlalu setia, terlalu lokal. Tapi... bukankah di situlah keindahannya? Di antara gedung menjulang dan gemerlap Mekah modern, rasa rindu pada pecel lele Lamongan, soto tangkar Bogor, sate Madura dan kikil Padang jadi penanda betapa kuatnya akar yang menumbuhkan kita.
Dan mungkin, justru di sanalah makna ziarah rasa: menapaki tanah para nabi sambil belajar merelakan lidah, membuka diri pada rasa baru tanpa kehilangan jati diri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar