Langkah membawa pandangan berkeliling —kiri, kanan, ke depan, ke belakang— tetap padat. Semua sudah diisi, semua sudah tertutup. Tapi entah mengapa, begitu menoleh lagi ke arah yang sempat dilirik, tiba-tiba ada celah kosong, selebar satu sajadah, yang tadi seolah tak pernah ada. Celah yang muncul tanpa logika, tapi dengan rasa yang tak bisa dijelaskan.
Aku berdiri di sana, diam sejenak. Bukan karena takjub pada keberuntungan, tapi karena sadar: mungkin ini bukan tentang ruang fisik, melainkan tentang ruang hati. Bahwa sering kali, dalam hidup yang tampak sesak dan sempit, Allah menyimpan satu celah kecil bagi yang terus berusaha mendekat. Celah yang tidak selalu terlihat oleh mata yang sibuk mencari, tetapi akan terbuka bagi hati yang sabar menunggu.
Di antara jutaan manusia malam itu, aku menemukan bukan sekadar tempat untuk shalat, tapi pesan yang lembut: bahkan di tengah keramaian semesta, selalu ada ruang bagi siapa pun yang sungguh-sungguh ingin mendekat. Dan mungkin, itulah keajaiban paling sunyi di Masjidil Haram — ketika celah kecil itu ternyata pintu yang dibukakan langsung oleh-Nya.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar