Di sela gedung-gedung tinggi di sekitar Masjidil Haram, saya menemukan pelataran kecil yang tak terduga. Bukan tempat suci, bukan pula tempat ramai. Hanya celah antara bangunan menjulang, lantai marmer yang dingin, dan sebidang langit yang menyisakan dua menara putih menjulang di kejauhan —menara Masjidil Haram, penanda arah jiwa dan tujuan langkah.
Di tempat yang membentuk balkon —bagian dari lantai 6 Makkah Tower & Hotel— dengan atap kubah mini di tengahnya itu saya duduk. Kopi di tangan, rokok di meja batu marmer. Di sinilah “jeda” menemukan maknanya. Sementara hiruk langkah jamaah di pelataran masjid terus mengalir tanpa henti, di sini waktu terasa melambat, seolah semesta sengaja menyisakan ruang sepi untuk manusia yang ingin berdialog dengan dirinya sendiri.
Lucu, pikirku, karena bahkan di Tanah Suci ini, naluri duniawi tetap menyapa: mencari tempat duduk, mencari kopi, mencari asbak. Tapi barangkali, Tuhan memang tidak menuntut manusia menjadi malaikat seketika. Ia hanya menghendaki kesadaran—bahwa di tengah kesibukan ibadah, ada ruang untuk tafakur, dan di sela kepulan asap, masih bisa lahir doa yang jujur.
Sebungkus rokok dan pemantik ungu di hadapanku tiba-tiba tampak seperti simbol kecil kehidupan: benda yang menyalakan api sekaligus menguji kendali. Ada waktu untuk membakar, ada waktu untuk memadamkan. Dan di antara keduanya, ada momen renung yang berharga: tentang hal-hal yang masih menempel, tentang kelekatan yang sulit dilepaskan, dan tentang keberanian untuk meletakkannya perlahan.
Dari tempat ini, menara Masjidil Haram terlihat agung tapi lembut —seperti dua tangan yang terangkat ke langit. Aku menatapnya lama, lalu menyeruput kopi terakhir. Rasa pahit yang tertinggal di lidah justru membuat hati terasa manis. Mungkin begitulah perjalanan spiritual: bukan tentang seberapa sering kita menahan diri, tapi seberapa dalam kita menyadari kelemahan dan tetap berani melangkah menuju cahaya.
Makkah mengajarkan bahwa perjalanan suci tidak selalu berlangsung di tempat ramai dan berdoa keras-keras. Kadang ia terjadi di ruang sempit, di antara gedung-gedung tinggi, di antara kepulan asap dan aroma kopi, di mana hati tiba-tiba disentuh oleh kesadaran sederhana: bahwa bahkan jeda pun bisa menjadi bentuk ibadah.
Dan ketika langkah nanti kembali menyatu dengan arus jamaah, aku tahu, Tuhan telah berbicara melalui keheningan yang sederhana. Di mana bumi dipijak, di situ bukan sekadar asbak dicari, tapi makna... dan kali ini, mungkin, sudah mulai kutemukan. ☕✨***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar