Lalu sesuatu terjadi, sesuatu yang tak pernah direncanakan. Setelah empat putaran tawaf, terlihat raut wajah penuh haru dari seorang istri yang sudah lama merindukan Ka'bah. Keinginan itu terbaca begitu jelas, sehingga tekad untuk membawanya ke sisi rumah suci itu pun muncul. Dan dalam derasnya arus ribuan manusia, Allah —pemilik rumah ini— membuka ruang kecil. Sebuah jalan sempit yang hanya bisa ditembus cepat dengan terobosan di luar logika.
Di antara tubuh-tubuh besar dari berbagai bangsa, langkah-langkah kecil kami menyelinap, mendekat, hingga akhirnya: tangan bisa menyentuh Ka'bah. Lengan bisa memeluknya. Hidung bisa mencium kiswah hitamnya. Bukan sekali. Bukan dua kali. Tetapi empat kali —dalam tiga putaran terakhir tawaf sunnah malam itu.
Waktu seolah berhenti. Doa yang
semula disusun rapi mendadak buyar, runtuh oleh derasnya rasa haru. Yang
tersisa hanya air mata yang jatuh tanpa aba-aba. Tidak ada kalimat panjang;
hanya bait-bait doa pendek yang lahir dari kedalaman hati: syukur, mohon ampun, dan
pengakuan betapa kecilnya manusia di depan kebesaran-Nya.
Perjalanan kembali ke hotel
terasa seperti melangkah di antara dua dunia: dunia fisik yang letih, dan dunia
batin yang baru saja disentuh keajaiban. Tubuh remuk, kaki nyeri, napas
pendek —namun hati melayang ringan. Tidak ada dorongan untuk langsung tidur;
yang terasa justru keinginan untuk menjaga momen itu agar tetap utuh, agar
tidak cepat berlalu.
Sesampainya di kamar, hanya
duduk lama tanpa bicara. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Dalam diam itu,
kejadian beberapa menit sebelumnya masih berputar, seperti gema yang enggan
mereda. Rasanya seolah baru saja pulang —bukan ke kamar hotel, melainkan ke
ruang paling dalam dalam diri sendiri. Tempat di mana doa, air mata, dan cinta
kepada-Nya menyatu menjadi satu pemahaman: segala letih ini ternyata adalah
bagian dari perjalanan pulang.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar