Rabu, 12 November 2025

Tawaf Sunnah Menjelang Tengah Malam dan Jalan ke Baitullah yang Dibukakan

Jam menunjukkan pukul 21.10. Udara Makkah masih hangat, tapi tak lagi membakar. Setelah tawaf umrah pertama yang berlangsung hingga menjelang subuh, tubuh sebetulnya masih letih. Siang tadi niat untuk tawaf sunnah sempat muncul, namun terik gurun dan rasa kantuk yang berat membuat niat itu tertunda. Tetapi malam ini, entah dari mana datangnya, kaki kembali bergerak. Ada panggilan halus yang tak bisa ditolak —rindu yang tak membutuhkan alasan.

Di pelataran mataf Ka'bah, manusia terus mengalir. Gelombang mereka seperti arus yang tak pernah putus, mengitari pusat semesta dengan ritme yang menenangkan sekaligus menguras tenaga. Jamaah ikut larut di dalamnya, berputar perlahan. Dalam himpitan dan dorongan, di antara napas yang memburu serta tubuh-tubuh yang basah oleh keringat, tidak ada keluhan. Hanya ada kesadaran: inilah tempat yang begitu dekat dengan sumber segala harapan.

Lalu sesuatu terjadi, sesuatu yang tak pernah direncanakan. Setelah empat putaran tawaf, terlihat raut wajah penuh haru dari seorang istri yang sudah lama merindukan Ka'bah. Keinginan itu terbaca begitu jelas, sehingga tekad untuk membawanya ke sisi rumah suci itu pun muncul. Dan dalam derasnya arus ribuan manusia, Allah —pemilik rumah ini— membuka ruang kecil. Sebuah jalan sempit yang hanya bisa ditembus cepat dengan terobosan di luar logika.

Di antara tubuh-tubuh besar dari berbagai bangsa, langkah-langkah kecil kami menyelinap, mendekat, hingga akhirnya: tangan bisa menyentuh Ka'bah. Lengan bisa memeluknya. Hidung bisa mencium kiswah hitamnya. Bukan sekali. Bukan dua kali. Tetapi empat kali —dalam tiga putaran terakhir tawaf sunnah malam itu.

Waktu seolah berhenti. Doa yang semula disusun rapi mendadak buyar, runtuh oleh derasnya rasa haru. Yang tersisa hanya air mata yang jatuh tanpa aba-aba. Tidak ada kalimat panjang; hanya bait-bait doa pendek yang lahir dari kedalaman hati: syukur, mohon ampun, dan pengakuan betapa kecilnya manusia di depan kebesaran-Nya.

Perjalanan kembali ke hotel terasa seperti melangkah di antara dua dunia: dunia fisik yang letih, dan dunia batin yang baru saja disentuh keajaiban. Tubuh remuk, kaki nyeri, napas pendek —namun hati melayang ringan. Tidak ada dorongan untuk langsung tidur; yang terasa justru keinginan untuk menjaga momen itu agar tetap utuh, agar tidak cepat berlalu.

Sesampainya di kamar, hanya duduk lama tanpa bicara. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Dalam diam itu, kejadian beberapa menit sebelumnya masih berputar, seperti gema yang enggan mereda. Rasanya seolah baru saja pulang —bukan ke kamar hotel, melainkan ke ruang paling dalam dalam diri sendiri. Tempat di mana doa, air mata, dan cinta kepada-Nya menyatu menjadi satu pemahaman: segala letih ini ternyata adalah bagian dari perjalanan pulang.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar