Sabtu, 08 November 2025

Sandal Hilang, Tapi Jejak Langkahnya Sampai ke Taman Surga

Foto ilustrasi/Google

Menjelang waktu masuk ke Raudhah, selepas Ashar, ada kejadian kecil yang membuatku tersenyum getir. Sepasang sandal baru —masih rapi dan bersih, dibawa dari tanah air— ketinggalan. Entah di mana persisnya, mungkin di antara deretan rak sepatu yang tak sempat kuperhatikan, dan tertinggal karena tergesa mengejar rombongan.

Sesaat aku terpaku, menoleh ke kanan-kiri, sempat ingin berbalik. Tapi arus manusia sudah terlalu deras, sementara pintu kesempatan menuju taman surga terbuka hanya sekejap. Maka kutarik napas dalam-dalam dan kuputuskan: biarlah sandal itu tinggal, asal langkah tak tertinggal.

Setelah menunggu lama, melangkah sedikit demi sedikit, akhirnya kakiku menapak di atas karpet hijau Raudhah —tempat yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai taman dari taman-taman surga. Di sanalah segala lelah mendadak sirna. Shalat dua rakaat, berdoa dengan terbata, lalu berdesakan lagi hingga akhirnya sampai di depan mimbar dan mihrab Nabi. Aku tidak lagi ingat sandal; yang kupikir hanya satu: semoga sujud ini diterima.

Usai Magrib di Raudhah, barulah ingatan itu datang kembali. Aku keluar sambil menelusuri lorong, berharap menemukan sandal yang hilang. Tapi masjid terlalu luas, dan aku terlalu lupa. Tak ada yang tersisa selain senyum kecil dan doa sederhana: “Ya Allah, semoga Engkau ganti dengan yang lebih baik… dan lebih berharga.”

Dan entah kenapa, hati ini ringan sekali. Karena tiba-tiba kusadari —mungkin begitulah cara Allah menukar sesuatu: mengambil yang remeh untuk memberi yang bernilai. Sandal hilang, tapi langkah kakinya sampai ke taman surga.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar