Sabtu, 08 November 2025

Saat Kesalehan Orang Lain Menjadi Cermin, Kita Ada di Barisan Mana?

Udara Madinah menjelang subuh terasa dingin dan kering. Angin padang pasir berembus lembut namun menusuk, membuat kulit serasa ditarik halus oleh udara yang hampir tanpa kelembapan. Dari arah hotel-hotel sekitar Nabawi, jamaah mulai berjalan beriring: laki-laki dengan gamis putih atau baju koko, sebagian dengan sarung khas Indonesia; perempuan mengenakan mukena tebal atau abaya panjang yang berkibar pelan terkena angin. Jalanan menuju Masjid Nabawi tampak berkilat oleh pantulan lampu jalan, meskipun tak ada setetes embun di permukaannya.

Trotoar batu pualam yang dingin dipenuhi langkah cepat para pejalan. Suara sandal terdengar ritmis, berpadu dengan bisikan salam dan doa yang mengalir pelan. Dari kejauhan, kubah hijau Nabawi tampak samar di bawah langit biru tua menjelang fajar —seperti mercusuar yang memanggil hati setiap pejalan untuk datang lebih cepat.

Di sisi jalan, penjual teh Arab sudah bersiap dengan termos besar, uapnya mengepul tipis di udara dingin. Tak jauh dari sana, seorang petugas kebersihan muda mendorong gerobak kecil, menyapa ramah siapa pun yang lewat sambil berseru, “Yalla, hurry... inside almost full!” Saya mempercepat langkah, berharap mendapat tempat di dalam masjid, bukan di pelataran seperti hari-hari sebelumnya.

Semakin mendekati Nabawi, arus manusia kian padat. Berbagai bahasa terdengar bersahutan, namun semuanya mengarah kepada tujuan yang sama. Ketika pintu-pintu besar dibuka, hawa sejuk dari dalam masjid mengalir keluar, menyambut jamaah dengan kelembutan yang kontras dengan dingin subuh. Aroma misik dan karpet baru tercium halus, menambah kesan sakral pada momen menjelang shalat.

Saat azan berkumandang, suaranya melayang di antara tiang-tiang putih yang menjulang, memantul lembut hingga terasa seperti getaran halus di udara. Jamaah berdiri serempak, membentuk barisan rapat yang tenang. Sesaat sebelum takbiratul ihram, terbayang kembali wajah-wajah yang ditemui di jalan: petugas kebersihan muda, penjual teh, jamaah dari berbagai negeri —semua berdoa kepada Tuhan yang sama, dengan bahasa dan cara yang berbeda.

Di tengah lautan doa itu terbersit satu pertanyaan yang membisiki hati: mampukah diri ini bersaing dengan orang-orang yang terlihat begitu tulus, dan kelak mendapatkan “tiket” menuju surga-Nya?

Usai shalat, jamaah berangsur meninggalkan masjid. Langit yang semula gelap kini mulai berpendar merah. Dingin subuh yang tadi menggigit berubah menjadi lebih bersahabat. Jalanan masih berkilat dalam pantulan lampu-lampu yang belum padam. Mereka yang kembali menuju hotel melangkah perlahan, diiringi angin subuh yang kembali berembus —memberikan suasana syahdu yang sama seperti ketika perjalanan menuju masjid dimulai.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar