Beginilah ekspresi kami, saya dan istri, ketika
selfie di atas punggung unta. Tertawa sambil berpegangan erat, seolah sedang
menaklukkan wahana gurun yang sejak dulu hanya mampu kami lihat di kalender
atau film. Seekor unta jangkung, satu bocah penggembala, dan panas yang
menyengat di Lembah Jin, Jabal
Magnet (nama aslinya: Manthiqa Baidha) —kombinasi yang membuat siang
itu terasa begitu “Arabian” sekaligus sedikit absurd. Kami awalnya hanya ingin
membuktikan kabar bahwa Jabal Magnet bisa mendorong atau menarik kendaraan sampai 100–120
km/jam dalam keadaan netral. Tapi yang kami temukan justru tunggangan gurun
yang legend ini, lengkap dengan aroma khasnya yang… ya, begitulah.
Momen ini adalah bagian dari city tour Madinah hari Minggu, 9 November 2025. Pagi-pagi setelah sarapan, rombongan berangkat dengan semangat. Agenda kami tiga: Percetakan Al-Qur’an, Jabal Magnet, dan Sumur Ghars.
Tapi hari itu rupanya punya rencananya sendiri.
Setibanya di Percetakan
Al-Qur’an, pintu gerbang justru ditutup persis beberapa menit sebelum kami
datang. Informasinya, ada kunjungan dari pihak kerajaan sehingga pengunjung
umum tak diizinkan masuk. Jadinya, kami hanya berdiri di luar—menatap dinding
kokoh kompleks itu sambil membayangkan betapa menakjubkannya melihat proses
pencetakan mushaf dari dekat. Tidak ada aroma tinta, tidak ada suara mesin,
hanya angin gurun yang lewat sambil berbisik: “Lain
waktu saja ke sini lagi...”
Perjalanan pun dilanjutkan ke Jabal
Magnet, tempat fenomena gunung magnet yang seharusnya "menarik” tapi ternyata "tidak menarik".
Saat bus kami yang kami tumpangi melaju, tak ada yang terasa aneh. Mobil tetap setia pada
hukum fisika biasa. Tidak ada kecepatan mendadak, tidak ada tarikan ajaib. Yang
ada... hanya unta-unta santai yang kemudian menggoda rasa penasaran kami —dan
akhirnya, membawa kami pada foto itu. Pengalaman absurd tapi menyenangkan;
kadang hal tak direncanakan justru jadi kenangan paling hangat.
Destinasi terakhir: Sumur
Ghars, sumber mata air bersejarah yang disebut sebagai salah satu
sumur Rasulullah SAW dan dipercaya sebagai tempat beliau meminum air yang kelak
digunakan untuk memandikan jenazahnya. Namun sayangnya, lokasi itu pun sedang
direnovasi, membuat kami hanya bisa berhenti di luar pagar sambil mendengar
kisahnya dari mutawif.
Akhirnya, rombongan
kembali ke hotel bersiap untuk agenda paling khidmat sore itu: ziarah pamungkas
—pamitan ke makam Rasulullah SAW.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar