Minggu, 09 November 2025

Ketika Jabal Magnet Lagi Malas, Justru Unta yang Datang Menggoda

Beginilah ekspresi kami, saya dan istri, ketika selfie di atas punggung unta. Tertawa sambil berpegangan erat, seolah sedang menaklukkan wahana gurun yang sejak dulu hanya mampu kami lihat di kalender atau film. Seekor unta jangkung, satu bocah penggembala, dan panas yang menyengat di Lembah Jin, Jabal Magnet (nama aslinya: Manthiqa Baidha) —kombinasi yang membuat siang itu terasa begitu “Arabian” sekaligus sedikit absurd. Kami awalnya hanya ingin membuktikan kabar bahwa Jabal Magnet bisa mendorong atau menarik kendaraan sampai 100–120 km/jam dalam keadaan netral. Tapi yang kami temukan justru tunggangan gurun yang legend ini, lengkap dengan aroma khasnya yang… ya, begitulah.

Momen ini adalah bagian dari city tour Madinah hari Minggu, 9 November 2025. Pagi-pagi setelah sarapan, rombongan berangkat dengan semangat. Agenda kami tiga: Percetakan Al-Qur’an, Jabal Magnet, dan Sumur Ghars.

Tapi hari itu rupanya punya rencananya sendiri.

Setibanya di Percetakan Al-Qur’an, pintu gerbang justru ditutup persis beberapa menit sebelum kami datang. Informasinya, ada kunjungan dari pihak kerajaan sehingga pengunjung umum tak diizinkan masuk. Jadinya, kami hanya berdiri di luar—menatap dinding kokoh kompleks itu sambil membayangkan betapa menakjubkannya melihat proses pencetakan mushaf dari dekat. Tidak ada aroma tinta, tidak ada suara mesin, hanya angin gurun yang lewat sambil berbisik: “Lain waktu saja ke sini lagi...”

Perjalanan pun dilanjutkan ke Jabal Magnet, tempat fenomena gunung magnet yang seharusnya "menarik” tapi ternyata "tidak menarik". Saat bus kami yang kami tumpangi melaju, tak ada yang terasa aneh. Mobil tetap setia pada hukum fisika biasa. Tidak ada kecepatan mendadak, tidak ada tarikan ajaib. Yang ada... hanya unta-unta santai yang kemudian menggoda rasa penasaran kami —dan akhirnya, membawa kami pada foto itu. Pengalaman absurd tapi menyenangkan; kadang hal tak direncanakan justru jadi kenangan paling hangat.

Destinasi terakhir: Sumur Ghars, sumber mata air bersejarah yang disebut sebagai salah satu sumur Rasulullah SAW dan dipercaya sebagai tempat beliau meminum air yang kelak digunakan untuk memandikan jenazahnya. Namun sayangnya, lokasi itu pun sedang direnovasi, membuat kami hanya bisa berhenti di luar pagar sambil mendengar kisahnya dari mutawif.

Akhirnya, rombongan kembali ke hotel bersiap untuk agenda paling khidmat sore itu: ziarah pamungkas —pamitan ke makam Rasulullah SAW.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar