Senin, 10 November 2025

Puntung Terakhir di Jalan Abu Ubaidah

Jalan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah di Madinah itu lebar, halus, dan tenang. Siang hari, cahaya matahari memantul di aspal hitamnya seperti cermin raksasa yang nyaris tanpa debu. Di kiri kanan, deretan hotel tinggi berdiri rapi, salah satunya tempat saya dan rombongan jamaah umrah menginap — Al Ansar Golden Tulip. Tak ada motor berseliweran seperti di kampung halaman. Hanya mobil, mobil mewah, dan bus yang lewat perlahan dengan sopan, seolah tahu diri sedang melintasi kota suci.

Yang tak saya temukan di sepanjang jalan itu hanyalah... tempat sampah. Entah tersembunyi di balik tiang, atau memang sengaja disembunyikan dari pandangan agar kota ini tetap tampak bersih sempurna. Tapi hasilnya aneh: Madinah tetap bersih, meski tempat sampahnya minim. Ironisnya, justru di situ letak rahasianya — bukan karena tempat sampahnya banyak, tapi karena orang-orangnya terbiasa tidak membuang sembarangan.

Nah, sayangnya, kebiasaan itu belum tentu berlaku bagi semua tamu Allah. Termasuk saya.😅 

Setiap kali habis makan malam, saya dan beberapa jamaah turun ke depan hotel. Angin Madinah yang kering tapi lembut itu memang paling cocok buat satu hal: ngudud. Kami berdiri berkelompok kecil, saling diam, hanya asap putih yang naik perlahan di antara kami. Setelah isapan terakhir, tangan saya otomatis menurunkan puntung, ujung sandal kanan sedikit miring, cek... bara padam, dan... ya sudah. Dibiarkan saja di situ.

Awalnya saya merasa bersalah. Tapi ketika menengok ke kanan dan kiri, ternyata banyak “teman seperjuangan”. Puntung-puntung kecil itu bertebaran rapi di pinggir trotoar depan hotel, seolah sedang musyawarah nasional perokok Nusantara di tanah suci.🤣

Malam-malam berikutnya saya jadi maklum. Mungkin inilah cara paling manusiawi menjaga keseimbangan: kota tetap bersih secara umum, tapi masih ada ruang kecil bagi dosa-dosa ringan yang terinjak sandal.

Dan ketika saya menatap jalan Abu Ubaidah yang tetap bersih keesokan paginya, saya sadar: di Madinah, kebersihan memang sebagian dari iman. Tapi iman saya masih harus diuji —setiap kali sebatang rokok terakhir, berakhir tanpa tempat sampah.😂***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar