Selasa, 11 November 2025

Miqat Pertama di Antara Madinah dan Makkah

Jam menunjukkan pukul dua siang ketika bus perlahan meninggalkan Madinah. Langit tampak kering, membentang tanpa awan, seolah enggan memberi teduh. Di luar jendela, barisan pohon kurma melambai malas, dan bayangan kubah hijau Masjid Nabawi perlahan mengecil, tenggelam di antara gedung-gedung berwarna pasir. Ada getar halus di dada: seakan Madinah menatap kepergian dengan doa yang tak terdengar.

Tak terlalu lama, bus berhenti di Masjid Bier Ali — miqat Dzulhulaifah. Di sinilah jamaah memulai niat ihram. Orang-orang turun membawa kantong hijau berisi kain putih, sebagian lagi menggenggam botol air zamzam sisa dari Nabawi. Suara gemericik air wudu berpadu dengan lantunan niat ihram yang bergema serempak. "Nawaitul 'umrata wa ahramtu bihi lillahi ta'ala". Ada kesungguhan dalam setiap kata, tapi juga rasa gentar yang tak terucap. Karena sejak saat itu, setiap langkah adalah ibadah.

Perjalanan pun dilanjutkan. Jalan raya lebar membentang lurus tanpa akhir. Aspalnya hitam legam, seperti garis nasib yang ditarik di antara dua kota suci. Di kiri kanan hanya bukit cadas dan batu hitam; sesekali muncul kawanan unta di kejauhan — titik-titik bergerak di hamparan gurun yang membisu.

Bus terus melaju. Sebagian jamaah mulai terlelap, sebagian lagi sibuk menahan kain ihram agar tak melorot. Udara AC membuat suasana hening, hanya suara mesin dan alunan talbiyah dari pengeras suara: Labbaik allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wanni'mata laka wal mulk laa syarika laka”. Ritmis, menembus kesunyian.

Setelah menempuh berjam-jam, bus akhirnya berbelok ke sebuah rest area. Di situ ada SPBU, musala kecil, dan kios minuman dingin. Langit sudah memerah di ufuk barat, seperti api yang mulai padam. Orang-orang turun bergantian, wajah mereka lelah tapi damai. Ada yang duduk di pinggir trotoar, menyandarkan punggung di dinding kios, ada pula yang menyeruput kopi terburu-buru sambil mencari-cari asbak.

Gurun di kejauhan perlahan berubah warna — dari oranye ke ungu kehitaman. Seperti bumi sedang menutup mata. Ketika bus kembali melaju, malam sudah turun sepenuhnya. Lampu-lampu jalan jarang, hanya sinar kecil dari kendaraan lain yang sesekali melintas. Di dalam bus, sebagian jamaah tertidur dengan kepala bersandar ke jendela.

Saya memandangi gelap yang tak bertepi di luar sana. Di antara dentum roda dan desau angin, ada rasa yang sulit dijelaskan — seolah setiap kilometer membawa jiwa ini sedikit lebih dekat, bukan hanya ke Makkah, tapi ke pengakuan paling jujur dalam diri sendiri.

Dan ketika akhirnya lampu-lampu kota mulai tampak di kejauhan, saya tahu: perjalanan belum selesai, tapi hati sudah mulai pulang. Dari Madinah menuju Makkah — bukan sekadar perjalanan antarkota, melainkan perjalanan dari rindu menuju perjumpaan.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar