Di sinilah manusia diuji: antara ingin buang air atau menunggu sampai toilet hotel Makkah. Tapi antrean di depan sudah panjang, dan beberapa wajah dari rombongan terlihat pasrah, sebagian lagi malah bersyukur — katanya, “Toilet di sini lebih jujur, gak pura-pura wangi.” Saya tertawa. Benar juga. Tidak ada pengharum, tidak ada lampu sensor otomatis, tapi ada rasa damai karena semua orang sama: sama haus, sama lelah, sama kebelet.
Di sisi lain, saya sempat melirik papan nama rest area: tak ada nama seperti “KM 62” atau “Tipe A”. Tidak ada juga janji “kopi mantap, wi-fi gratis”. Di sini, satu-satunya fasilitas “premium” adalah bayangan truk yang berhenti di samping. Dan entah kenapa, duduk di bawah bayangan truk itu terasa jauh lebih nikmat daripada nongkrong di kafe berpendingin udara.
Kalau rest area di Indonesia adalah tempat manusia memanjakan tubuh — dengan kopi susu, bakso urat, dan spot selfie — maka rest area di jalan Madinah-Makkah ini adalah tempat manusia memanjakan kesadaran. Kita tidak bisa memilih musik, tidak bisa memesan minuman favorit; yang bisa dilakukan hanya duduk diam, menatap horizon gurun, dan membiarkan angin panas meniup ego yang belum sempat berhenti.
Saya jadi teringat pepatah Arab lama, “Siapa yang tidak mengenal arti diam di gurun, belum mengenal dirinya sendiri.” Mungkin itu sebabnya rest area di sini dibuat sesepi itu — agar kita belajar mendengar suara yang jarang terdengar: napas sendiri.
Beberapa jamaah di luar sedang meneguk air zamzam dari botol kecil, sambil bercanda, “Kalau ini di Indonesia, pasti sudah ada promo: beli dua, gratis tisu basah.” Kami tertawa, pelan tapi panjang. Di tengah panas yang kering, humor terasa seperti oase kecil — menyejukkan lebih dari es teh manis.
Ketika bus kembali melaju dan gurun kembali menelan pandangan, saya berpikir: barangkali rest area seperti ini memang tidak dibuat untuk memanjakan penumpang, melainkan untuk menelanjangi kesadaran — bahwa perjalanan spiritual bukan tentang berapa nyaman tempat berhenti, tapi seberapa jauh kita bisa menahan diri sebelum benar-benar sampai.
Dan entah kenapa, ketika bayangan sore mulai menua dan garis jalan masih lurus sejauh pandang, saya justru merasa sedang berada di rest area terbaik dalam hidup: di tengah perjalanan, di antara panas dan debu, dan di dalam diri sendiri yang perlahan belajar berhenti — meski busnya belum.***
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar