Di tengah perjalanan, bus berhenti di sebuah rest area. Lampu-lampu putih di sana menyilaukan, seperti ruang transit yang tak peduli siapa saja yang lewat. Orang-orang turun dengan langkah letih, ada yang mengusap mata, ada yang mendekap syal lebih rapat. Ada yang hanya duduk memegang gelas kopi panas tanpa menghirup. Seakan semua yang singgah di sana sedang membawa versi paling jujur tentang dirinya, yang hanya muncul ketika tubuh lelah dan hati tak lagi sempat bersandiwara.
Lalu perjalanan berlanjut. Di kursi depan, seorang jamaah tua merapikan kain ihramnya berkali-kali, seperti sedang merapikan kembali tekad yang sempat berantakan oleh banyak hal yang menempel selama perjalanan hidupnya. Bus kembali melaju, kali ini lebih cepat, seperti tahu bahwa waktunya semakin sedikit dan tujuannya semakin dekat.
Ketika lampu-lampu Makkah mulai muncul dari kejauhan, terasa sesuatu yang tak bisa dinamai. Campuran harap, takut, rindu, dan rasa kecil yang tiba-tiba membesar. Makkah terlihat seperti cahaya yang tidak meminta disesuaikan, tetapi meminta diterima apa adanya: terang, tegas, dan tanpa ruang untuk dalih-dalih yang selama ini disembunyikan.
Dan di momen itu, mucul sadar: perjalanan ini sebenarnya bukan tentang berpindah dari satu kota suci ke kota suci lain. Ini adalah perjalanan dari Aku yang penuh alasan, menuju Dia yang tak butuh alasan apa pun untuk menerima.
Ketika bus akhirnya memasuki kota Makkah —dengan udara yang berubah hangat dan malam yang terasa lebih hidup— seperti mendengar bisikan yang tidak bersuara: bahwa perjalanan sejati itu selalu membawa kita dari diri kita yang lama, menuju Dia yang sejak awal menunggu.
Dan ternyata, sejak seperempat malam itu dimulai, aku telah menempuh perjalanan jauh lebih besar daripada jarak Madinah ke Makkah. Aku sedang menempuh jarak antara Aku… dan Dia.***
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar