Selasa, 11 November 2025

Umrah Pertama: Pusaran Doa di Bawah Cahaya Masjidil Haram

Sesampainya di Makkah, rombongan yang masih mengenakan pakaian ihram sejak miqat di Masjid Bir Ali langsung melakukan check-in dan makan malam pertama di Makkah Hotel & Towers. Lokasinya ternyata sangat strategis—bersebelahan dengan Zam Zam Tower atau Makkah Royal Clock Tower. Bahkan pelataran hotel menyatu dengan akses menuju halaman Masjidil Haram, membuat denyut kehidupan para jamaah sudah terasa sejak melangkah keluar dari lobi.

Setelah menyimpan barang di kamar dan merapikan kembali kain ihram agar tetap suci dari wangi-wangian, jamaah berkumpul di lobi. Dari sana, rombongan berjalan menuju pelataran dan masuk ke Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat Maghrib dan Isya secara jamak takhir. Malam itu udara hangat menyelimuti kota suci, sementara cahaya lampu masjid memantul lembut di atas lantai marmer putih. Ribuan manusia dari berbagai bangsa bergerak dalam satu irama, menuju satu tujuan yang sama.

Menjelang pukul sebelas malam, rangkaian umrah pertama dimulai. Dari lorong-lorong masjid yang megah, rombongan bergerak menuju area mataf. Dan di sanalah, momen yang selalu menggetarkan setiap hati muslim terjadi: Ka'bah tampak begitu dekat di depan mata.

Seketika langkah banyak jamaah melambat. Ada yang menahan napas, ada yang meneteskan air mata tanpa mampu menjelaskan sebabnya. Ka'bah—hitam, tegas, agung—berdiri diterangi cahaya masjid. Terlihat para jamaah mengangkat tangan sambil berbisik lembut, "Bismillahi Allahu akbar..." Malam itu, Ka'bah terasa seperti poros semesta yang merangkul seluruh kerinduan.

Tawaf pun dimulai. Tujuh putaran mengelilingi Ka'bah, mengikuti arus manusia yang bergerak seperti ombak tak henti-henti. Lantunan doa terdengar dalam puluhan bahasa, bercampur dengan isak syukur dan kalimat takbir yang melayang di atas kepala. Meski ribuan manusia saling bergeser rapat, ketenangan justru memeluk dari segala arah—setiap langkah adalah ibadah, setiap putaran adalah pengakuan atas kebesaran Allah.

Usai tawaf, perjalanan berlanjut ke bukit Shafa untuk memulai sa'i. Di lorong panjang itu, kisah perjuangan Hajar seakan hidup kembali. Ribuan jamaah bergerak bolak-balik tujuh kali antara Shafa dan Marwah. Meski ramai, lorong itu tetap menyisakan ruang sunyi dalam hati.

Di setiap lintasan—di antara dua pilar berlampu hijau—suara istriku selalu terdengar lantang dan mantap membaca doa: "Rabbighfir warham wa'fu wa takarram, wa tajaawaz ammaa ta'lam innaka ta'lam maa laa na'lam, innaka antallahul-a'azzul-akram" Sambil berlari-lari kecil, ia tersenyum, sementara aku berusaha menyusul dalam haru yang sulit dijelaskan.

Langkah demi langkah, rasa lelah seolah bercampur dengan kenikmatan ibadah. Setiap ayunan kaki membawa makna, seakan menapaki jejak ketabahan seorang ibu yang mengajarkan dunia arti kesabaran.

Usai tujuh kali perjalanan antara Shafa dan Marwah, rangkaian umrah ditutup dengan tahallul. Ketika beberapa helai rambut dipotong sebagai tanda selesainya ibadah, banyak jamaah menunduk dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa ringan yang tiba-tiba hadir—campuran lega, syukur, dan keinsafan.

Di luar, malam Makkah sudah menua. Namun halaman Masjidil Haram tetap dipenuhi ribuan manusia yang terus berdatangan. Di langit, jam raksasa Royal Clock Tower berdiri kokoh bak penjaga malam. Di bawahnya, Ka'bah terus bersinar, menjadi saksi setiap doa, setiap air mata, dan setiap kekaguman yang tak sanggup dilukiskan dengan kata-kata.

Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar. La hawla wala quwwata illa billahil aliyil adzim. Betapa besar nikmat bisa sampai di sini.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar